5W+1H
Hello!
Ga pernah muncul ide buat bikin blog atau nulis blog atau apapun itu yang berhubungan dengan blog sampai 15 menit yang lalu. Temen gue bilang "taro tulisan lo di blog"
Kalo ditanya, suka nulis, iya gue suka. Sebenarnya ide menulis gue ini muncul dari keseringan membaca buku. Entah, buku apa aja. Udah dari lama sih, tapi emang benar ya katanya, kalau banyak baca buku itu bisa menciptakan rasa ingin menulis?
Well, di post ini gue coba melanjutkan potongan cerita dari 'seseorang'. Gue coba rubah cerita yang dia post di blog nya dari pandangan gue sendiri. Pandangan orang awam. Pandangan orang yang sok-sokan menulis hanya karena suka baca buku. Pandangan yang sempit. Dan cerita ini berjudul, 5W+1H.
Yuk silahkan di cek, ini part pertama yang berjudul When and Where. Dan jangan lupa buat temen-temen yang sempet-sempetin baca mohon feedback nya. Sorry kalo di blog ini berantakan, soalnya copas dari ms word. Dan..well, this is barely my first time to post in the f-in blog. Ga ngerti edit-editnya! hahaha
Jonathan
Widiane (2015)
Alarm
gue berbunyi 30 menit lebih cepet dari biasanya. Hari ini hari enjoy sedunia, hari minggu. Tetapi ada
yang beda dari biasanya. Kepala gue berat banget dan disaat gue bangun, sahabat
gue, Amel, ada disamping gue meluk bantal guling yang menurut gue sangat lah
tidak layak kalau itu disebut bantal guling.
“El, bangun. Hari minggu nih. Hari jogging sedunia. Gue mau jogging dulu. Ikut ga lo?” bisikan
iseng ke telinga nya.
“ehm…iya Nah udah pagi ya.” Dia
terbangun dari tidurnya tapi tetap memejamkan matanya.
Dia
adalah sahabat gue, Amelia Lucky. Walaupun nama gue udah sekeren-keren nya
dirancang sama bokap nyokap gue, tetapi tetap aja dia manggil gue dengan
sebutan ‘Jonah’. Hah! Udah kaya nama perempuan aja. Semalam dia datang kekamar gue
membawa dua botol minuman alkohol bermerek dan enam kaleng bir ternama di Negeri
ini. Dia baru banget putus dengan ‘mantan’ pacarnya kemarin siang. Tidak tahu
alasannya, yang jelas sound suspicious
to me. Mungkin ‘mantan’ nya itu
cemburu karena si Amel lebih memilih pergi bareng gue dibandingkan dengan nya.
Masih ada ya jaman sekarang, Cowok cemburuan?
“kepala gue masih berat Jonah, duluan
aja. Gue numpang tidur di kamar lo ya. Mager banget gue balik ke kamar.” Dia membalikkan
badannya kearah gue tetapi tetap saja memejamkan matanya.
“okay gue tinggal ya. Paling gue cuman
30 menitan.” sambil beranjak dari tempat tidur.
Tidak
ada balasan. Wajar saja, kita berdiskusi keras alias curhat tanpa alam sadar
kita sampai jam dua pagi. Tenang aja, gue enggak melakukan hal bodoh kok. Gue
kan cowok gentle. Walaupun kita enggak
satu sekolah, kami sudah saling mengenal saat dulu masih SMP. Gue kenal dari
salah satu lembaga bahasa inggris yang sedari dulu sudah ‘bernama’ hingga
sekarang. Waktu kuliah dulu gue sempat dekat dengannya karena kita memang satu
kampus. Tetapi karena saat kuliah kita sudah sama-sama punya pacar, ya kita
batasi kedekatan kita sebagai ‘teman main’. Teman main disini maksudnya teman
satu kosan, makan bareng. Bukan yang aneh-aneh. Memang sih, kita juga sering
pergi bareng dikala menutup kesedihan karena tidak bisa bertemu dengan pacar
masing-masing. Lebih tepat nya kita adalah sahabat. At least menurut gue.
Pagi ini cerah seperti mood gue.
Pembicaraan gue semalam dengan Amel benar-benar membuat perasaan gue lega. Walaupun
memang lebih banyak Amel yang bercerita tentang ‘mantannya’ itu, tetapi tetap
saja gue udah lama enggak membahas tentang Dia. Dia yang menghantui gue dari awal
SMA sampai sekarang. Dia yang meninggalkan gue karena dia harus melanjutkan
studi di Paris. Dia yang meminta gue untuk menunggu nya. Dia yang senyumnya
mempunyai seribu arti, dan dia yang tidak pernah kembali hingga sekarang. Walaupun
memang gue sering gonta ganti pacar, tidak menutup kemungkinan gue masih
merindukannya. Semua kejadian terakhir di hari itu, masih terekam jelas
dipikiran gue. Mungkin ini yang sering disebut sebagai “Cinta Pertama” oleh
orang-orang banyak. Another bullshit
stuff. Hah! Masa bodoh, yang penting sekarang jogging dulu. Menikmati
negeri sakura dipagi hari.
How many days have
passed like this?
This city the crowd is
fading, moving on…
I sometimes have
wondered where you've gone
Story carries on,
lonely, lost inside.
Shit,
kenapa harus Glassy sky yang keputer
di iTouch gue. Seakan Donna Burke memaksa gue untuk merenungi, me-reka ulang
kejadian 6 tahun lalu dipagi yang cerah ini sambil jogging-jogging lucu di Tama River. Ditambah lagi ada sepasang
remaja Jepang sedang asik duduk dirumput sambil suap menyuap. Sebenar nya
enggak ada hubungan nya sih, tapi tetep aja bikin gue ngayal tentang nya. Apa
kabar ya dia?
Kantin sekolah,
sejarah dimulai! (2009)
Dia. Dia yang selalu gue lihat pas jam
istirahat sekolah. Sudah hampir 3 tahun senyumnya nemenin gue ketika
beristirahat. Hey! Gue enggak bilang kalau gue jatuh cinta ya. Gue enggak tau
lebih tepatnya. Gue hanya suka melihat senyumnya. Lagi pula terlalu aneh buat
gue untuk jatuh cinta pada orang yang enggak gue kenal. Tiba-tiba gue mendengar
suara teman nya berteriak kepadanya.
Oh,
namanya Karen.
Waktu
itu adalah hari pengumuman kelulusan sekolah. Saatnya gue mengucapkan selamat
tinggal dengan kenangan yang gue miliki saat berseragam putih abu-abu. Tapi apa
iya gue harus mengucapkan selamat tinggal padanya juga?
Sapa gue sambil tersenyum malu melihat matanya yang
penuh spektakuler sesaat pulang sekolah “Ha.. halo”
Now or Never
Jonathan!
D-day! (2009)
Hari ini akhirnya datang juga. Gue kira
“halo” yang gue ucapkan waktu itu hanya akan menjadi sebuah awal sekaligus
akhir dari sebuah cerita. Ternyata gue salah. Di sinilah gue duduk di salah
satu sudut Kafe menunggu kedatangannya.
‘Gue udah ganteng kan
ya hari ini?’
sambil
menatap bayangan yang terpantul di jendela Kafe.
Hah!
Pasti udah lah! Percuma kan nyokap gue ngelahirin gue di dunia ini. Tetapi
tetap aja berkali-kali gue mengetukan jari-jemari ke meja. Menutupi rasa gugup dan
fakta bahwa ini pertama kalinya bagi gue untuk pergi berdua saja dengan seorang
wanita.
Dia
datang!
Gue
melihat sosoknya sedikit berbeda saat memakai pakaian Casual. Oh iya, ini pertama kalinya gue melihat dia dengan pakaian
yang Casual bukan seragam. Tapi gue
suka perasaan ini. Gue jadi sedikit mengenalnya bukan sebagai gadis yang
senyumnya gue… ehm, sukai selama SMA.
Kali
ini dia yang nyapa duluan,
“Hey! Sudah lama ya?” Sambil
menenteng buku yang dia bawa.
Oh,
ternyata dia suka baca buku juga.
Gue
meneliti sedikit novel yang dari tadi ia tenteng. Namun pikiran gue teralihkan
oleh lagu yang sayup-sayup terdengar di Kafe siang itu.
I’ve got a picture of
your house and you’re standing by the door…
Aneh,
kenapa juga harus lagunya Warrant.
Perasaan gue aja kali ya. Gue sempet diam tak berkata selama beberapa detik
karena ketidak sengajaan yang Tuhan-buat. Aku mendengar suara senandung. Saat
tersadar, ternyata dia lagi menutup mata sambil bersenandung kecil.
Dia suka lagu seperti ini? Cool!
Terlepas
dari panasnya siang itu dan diselingi tertawa kecil, ini adalah fakta bahwa
senyumannya kali ini hanya untuk gue. Senyum yang gue idolakan selama 3 tahun
terakhir itu. Merasa over self
confidence, gue mulai bertanya,
“Novel apa tuh?” sambil
melihat fokus ke arah novel yang terbaring di meja sedari tadi, seakan melambai
ke gue dan novel tersebut ngomong ‘bingung ya mau basa basi apa? Jangan pakai gue
sebagai alat basa basi lo ye’ hah!
“oh ini? Ini novel yang
barusan aku beli tadi di jalan saat menuju kesini”
“judulnya apa?” padahal sudah sangat jelas terbaca bahwa
judul nya Dunia Anna.
“Dunia Anna” balasnya pendek. Jangan-jangan dia tahu kalau
buku ini basa-basi gue?
“oh karya nya Jostein Gaarder ya? Aku tau pengarang nya. buku
beliau yang paling aku suka itu Dunia Sophie. Tapi memang sih hampir semua
konsep cerita yang dia buat sama. Yang pasti, tokoh utamanya mendapatkan sur….”
“Stop! Please aku
belum baca, jangan spoiler ya!”
sedikit menaikkan alis kanan nya dengan tampang jutek yang terpasang hampir
lebih dari 4 detik.
“ahaha iya sorry..”
Waktu berlalu dengan cepat. Sangat tidak terasa sudah hampir
2 jam kami mengobrol tanpa satupun snack di meja kami. Hanya secangkir espresso gue dan macchiato miliknya.
“eh, bosen ga sih? Pindah yuk sekalian aku mau makan, laper
deh” Benar katanya, gue emang bosan. Gue engga bisa merokok men! Padahal, ngopi
sembari ngerokok itu kan pahalanya besar.
“ayo! Aku juga sedikit laper nih. Kemana ya?” gue paling
buntu ide kalau masalah tempat tujuan. Semoga dia merekomendasikan tempat
sekitar sini.
“ke restoran italy favoritku yuk, cuman beberapa blok aja kok
dari sini” balasnya yang ekspresif.
“waah ayo deh, kebetulan aku juga lagi ngidam gnocchi ”
Really? Ngidam? kebetulan atau kesengajaan?
Angin sore ini kencang sekali. Rambut pendek nya tertiup
angin. ‘dia memang benar-benar tipe gue’ itu hayalan tingkat dewa gue pas
rambut nya tertiup angin. Tapi ini terlalu awal kalau gue bilang gue udah jatuh
cinta padanya. Gue aja baru berani ngobrol dengannya hari ini. Tidak pantas
jika gue jatuh cinta semudah itu. Bukan gue banget cuy! Tiba-tiba dia mengambil
kacamata dari tasnya.
“loh, kamu pakai kacamata juga? kok aku ga pernah lihat waktu
kita masih sekolah?” Tanya gue tersipu heran.
“ngga sih, ini kacamata gaya aja. Ngomong-ngomong, kok kamu
tau aku ga pernah pakai kacamata kalau disekolah? Wah waaah!” balasnya
ekspresif seperti biasa.
“eh engga kok aku nebak aja hehe”
Salting, muka gue mulai memerah sedikit. Menggarukkan
belakang kepala adalah kebiasaan gue disaat ini terjadi.
“Hello
my secret admirer!” katanya menggoda.
Sekali lagi, gue hanya bisa tersenyum kecil sambil menggaruk
kan belakang kepala gue. Benar sekali kalau dipikir. Secret Admirer. Hah, sudahlah itu kan pas masih sekolah. Yang
penting sekarang gue ada dihadapannya, berinteraksi bukan berhayal ataupun
mengamati.
“sebenarnya, aku juga sering kok mengamatimu saat jam
istirahat” tiba-tiba dia menengok kebawah, wajah ekspresif nya bekerja lagi.
Terlihat ada yang sedang dia pikirkan dan apapun itu gue rasa bukanlah hal yang
baik.
Full of doubt.
“ah masa sih? Wah waaah, Halo juga my secret admirer!” gue
sedang berusaha keras untuk mencairkan apapun yang sedang dia pikirkan. Mungkin
gue terlalu percaya diri kalau dia juga melakukan hal yang sama seperti dulu
disaat kita masih sekolah.
“engga deh, bercanda! Hehe” rawut mukanya kembali menjadi
gadis ceria. Sungguh, siapa dia ini? Hebat sekali. Hanya hitungan detik rawut
mukanya berubah. Tapi gue tahu persis ada yang sedang dia pikirkan.
Eyes never lie.
“Kita jalan kaki aja ya, dekat kok dari sini tempatnya.” Dia
mengajak gue untuk berjalan, menikmati pinggiran jalan disore hari ini.
Kalau cuaca sore ini digambarkan, Layaknya sinar matahari
senja yang sedang kerja rodi, menaruh segala harapan kepada angin untuk
menjadikannya salah satu sore yang indah. Dan angin pun mengabulkan permintaan
matahari, dan juga gue.
Disaat perjalanan menuju restoran yang dia maksud, tidak ada
sepatah kata yang terdengar dari mulut kami. Hanya bayangan dan langkah kita
yang berbicara.
Seirama.
Sesekali gue melihat wajahnya. Wajah ekspresif yang penuh
misteri. Benar sekali ada yang sedang dia pikirkan. Entah apa, gue salah
ngomong? Atau gue kurang peka? Well
hello, this is barely my first time to interact with the girl i adored for 3
years. I just…
“kenapa?” gue berbicara padanya tetapi pandangan tajam gue
tetap lurus kedepan. Gue enggak ingin kelihatan kalau sebenernya sedari tadi gue
memperhatikan nya.
“hah? Gakpapa kok.” Balasnya singkat.
“masih jauh ga nih? Laper tau, keburu kurus nanti akunya”
biasa, mencairkan ketegangan dengan bergaya sok-sok imut. Oh hell no, this isn’t me. Ini gue yang sedang menyamar.
“kita baru jalan 2 blok loh. Kamu udah ngeluh? Manja ih!”
tiba-tiba tangannya yang kecil itu mengusap bahu gue yang sedikit besar ini.
“ahaha ga ih bercanda, abis kelihatan tegang banget dari
tadi. Mau puter balik aja? Aku ambil mobil nih kalo mau. Terus aku anterin
pulang”
“aku laper tau. Ga ada makanan juga dirumah. Lagian ngapain
juga naik mobil, kamu mau melewati sore yang indah ini begitu aja? Sayang
taaau”
Iya dia benar. Ini adalah kesempatan gue. Kesempatan untuk
menikmati sore yang indah ini dan juga dengan gadis yang gue amati, senangi
selama 3 tahun terakhir ini. Tanpa basa-basi gue menarik tangan nya dari bahu ini
dan memegang nya dengan erat. Gue harap tindakan gue ini bisa meredakan apapun
yang sedang dia pikirkan.
“eh..” dia terlihat kaget nan senang.
Terimakasih
matahari, terimakasih angin, atas sore nan indah ini.
Feeling anxious (Jonathan, 2009)
“Sore mbak, mas. Table untuk 2 orang ya? Datang dengan pacar
nya mbak?”
Heh? Table? Mbak? PACAR?
Tanpa sadar kita sudah sampai direstoran italy favoritnya.
Disaat itu juga kita sadar dan melepaskan pegangan tangan kita sepanjang jalan
tadi.
“hah! He wish. Hahaha.
Iya mbak untuk 2 orang, dismoking area ya
mbak biar dia bisa ngerokok” balasnya sambil menunjukkan telunjukknya ke arah
gue.
“loh, kok kamu tau kalau aku ngerokok?”
“kan tadi aku bilang, aku juga sering mengamatimu dulu”
Tertegun, melayang, senang, dan sedih. Gue cuman takut dia enggak
suka dengan pria yang merokok. Gue pun takut kalo dikiranya gue stay cool didepannya dengan cara tidak
merokok dihadapannya. Dan tanpa sadar gue ditinggal dengan sejuta kekhawatiran
tadi.
“heh, kok bengong katanya laper, ayo sini” dia berbicara dari
jarak pandang 10 meter dihadapan ku dengan menawarkan tangannya.
Is this the real
life? Is this just fantasy?
“mbak aku pesen menu biasa ya. Kamu pesen apa?”
“gnocchi maison terus
minumnya lychee ice tea ya mbak.”
“okay, ditunggu paling lama 20 menit ya”
Gue suka banget suasana restoran ini. Dekor nya classy, tidak terlalu ramai, terlihat
luas dan juga smoking area nya
diteras luar menghadap kepantai. Bukan didalam ruangan ber-exhaust. Ditambah lagi cuaca sore yang indah dengan- orang yang
mungkin nanti setelah dari sini gue mulai jatuh cinta dengannya sama seperti
gue jatuh cinta terhadap tempat ini.
10 menit berlalu begitu saja, mengobrol dan diselingi tertawa
kecil.
“liat deh pantulan matahari di air pantai nya, bagus ya” katanya sambil meminum green tea latte favorit nya di restauran
ini.
“iya, nanti dari sini kita ke situ yuk” ajakan secara spontan
ini sangat lah bodoh. Dia
terkejut dan memundurkan badannya sedikit. Oh
Crap! Kayaknya gue salah ngomong.
“hehe boleh deh, hitung-hitung mungkin ini bakal jadi
terakhirnya kali nya aku kesini” sedih.
Hah! Untunglah dia ingin. Tetapi mendengar kata-kata tadi gue
menjadi sedikit sedih. Tadi siang saat kita masih di kafe itu, dia memang
menyinggung tentang hidup diluar negeri seperti apa. Memang nya dia mau kemana?
Ah sudahlah mungkin gue terlalu berfikir keras akan hal ini. Mungkin saja dia
hanya bermimpi.
Who knows?
“haaah kenyaaang” katanya seperti biasa sedari tadi,
ekspresif.
“ehehe iya sama.” sambil mengambil kotak rokok favorit gue
ditas kecil beserta koreknya
“wah udah jam 5 sebentar lagi sunset. Jadi kepantai kan?”
“jadi dooong, tunggu ya sebatang dulu”
“ah semoga sebatang kamu ga kaya papa aku, sebatang nya
sepanjang lidi!”
“hahahaha”
Speak of the devil, Tiba-tiba handphone di tas nya berdering. Papanya. Ternyata
dia harus pulang sekarang. Suara papanya terdengar samar tetapi keras.
“eh maaf yaaa, aku bener-bener minta maaf. Aku harus pulang.
Gajadi kepantai. Besok aja deh jam 10an, Gimana?”
“harus banget ya jam 10 pagi? Kepagian kali, lagian pasti
panas
hahaha”
Dia berdiri dari kursi yang dia duduki dan terlihat risih
ingin cepat pulang, tapi tidak ingin. “please, ya jam 10. Turutin aja. Okay?
Aku pergi dulu sampai ketemu besok!”
“eh. Gak aku anterin aja?”
sambil mematikan rokok yang baru gue hisap 6 kali itu.
“gausah, kamu disini aja dulu. Wakilkan aku menjadi saksi
kalau sore ini adalah sore yang indah, daaah” sambil membelakangi gue dan ingin
cepat pergi dari tempat ini secara terpaksa.
Kenapa ya? Aneh. Mungkin papanya salah satu orang tua yang strict, menginginkan anaknya cepat
pulang.
“eh, iya hati-hati ya daaaah!”
Dia sama sekali tidak menoleh ke arah gue. Meninggalkan gue
begitu saja. Perasaan gue enggak enak akan besok. Ada apa ya? Sudahlah mungkin
gue terlalu mikir berlebihan akan hal-hal sepele.
Hamparan pasir pantai putih (2009)
Ada yang berbeda. Dia tidak seperti biasanya, dia sudah tidak
menutup-nutupi rawut muka yang penuh dengan doubt
itu. Senyum cerianya menghilang begitu saja. Senyum yang gue banggakan selama 3
tahun terakhir ini. Ketakutan gue kemarin sore mulai menghantui gue, lagi.
“kamu datang dari jam 9?! Kemarin aku ga salah dengar kan?
Kamu minta aku kesini jam 10. Eh bener ga sih?”
“iya bener kok. Aku cuman ingin datang lebih pagi aja. Mau minta
maaf.”
“eh? maaf?”
“iya, meminta maaf kepada hamparan pasir ini”
“kenapa?”
Tiba-tiba dia berlari semakin dekat ke arah pinggiran pantai,
menaiki satu karang yang besar. Disanalah ia berdiri. Diantara celah-celah
mentari. Sinar mentari waktu itu sedikit
menghalangi gue untuk melihat wajahnya. Tapi gue yakin ia sedang tersenyum,
kembali. Senyum yang selalu ingin gue lihat selama 3 tahun kemarin. Senyum yang
memaksa raga ini untuk memakan makanan kantin sekolah yang sedikit agak mahal dan
rasanya hambar, hanya agar bisa melihat dia bercanda bersenda gurau dengan
sahabat-sahabat nya. Senyum yang membuat gue memberanikan diri untuk mengajaknya
pergi kemarin dan juga senyum yang penuh misteri.
“Heh kamuuu jangan bengong aja, sinian dong!”
Gue datang menghampiri dia dengan langkah yang berat, pasir
sialan!
“akhirnya aku punya waktu untuk bisa berdiri dikarang ini.”
“hm memang ada apa dengan karang ini?” balas gue sambil
membakar rokok.
“dulu
aku pernah janji dengan adik ku waktu kecil.
Suatu saat nanti, aku akan berdiri dikarang yang besar ini, dengan orang yang
aku suka.” Datanglah kembali sifat
ekspresif nya. kali ini dia menengok ke atas, menatap awan kecil yang sedang
menutupi matahari.
Janji yang absurd.
Basa-basi mungkin yah?
“oh kamu punya adik?”
“iya tapi dia udah berangkat duluan 3 tahun lalu ke paris.
SMP disana”
“oh gitu, terus kapan adikmu pulang kesini?”
“pulang? enggak akan. Aku yang kesana. Aku juga akan
melanjutkan studi ku di Cergy – Pontoise selama tiga tahun”
Cergy – Pontoise? Di Paris? Shit! Gue hanya bisa terdiam. Merasa terpukul. Baru saja gue pengen
mengutarakan bahwa mungkin gue mulai jatuh cinta kepadanya sejak sore kemarin dan
dia harus pergi ke paris? Why?
“masih inget gak, waktu kita kelas satu SMA saat kita duduk
bersebelahan di perpustakan yang creepy itu,
kamu aku tegur karena terdengar lagu yang sangat keras dari headset kamu? Warrant – Heaven.”
Gue masih terpukul, lebih memilih diam dan mendengarkan
cerita flashback nya.
“mulai dari situ, aku sudah mulai mengenal mu. Ingat kah?”
terdengar suara serak seperti ingin menangis dari bibirnya.
“yang jelas semenjak hari itu kalau kamu sadar, akupun
melakukan hal yang sama seperti mu dikantin. Aku selalu datang keperpustakaan
setiap jam empat sore hari jumat untuk mencari tahu buku apa yang sedang kamu
baca. Aku freak ya?” lanjutnya.
Benarkah Tuhan? Memang benar gue setiap hari Jumat selalu
datang ke perpustakan untuk membaca buku apapun itu. Tapi ini semua....
“maka dari itu, kemarin adalah hari dimana yang aku
tunggu-tunggu selama 3 tahun ini”
‘Seriously? Me
too’ tetapi tetap tidak
ada sepatah kata apapun yang keluar dari mulut ini. Gue hanya menatap kebawah,
ke pasir-pasir putih yang gue harap tidak pernah ada, selamanya.
“tapi sayang siang ini aku harus berangkat ke paris. Hari yang
aku tunggu hanya berlangsung sehari saja. Sedih ya?”
Tanpa berfikir panjang gue ikut naik ke karang yang besar
itu, tingginya hanya dua meter. Dan memeluknya dari belakang.
“dear,
your wish is granted.” Sambil memeluk nya dari belakang.
Tiba-tiba gue merasakan rintikan air hangat jatuh ke lengan ini.
Ya, dia menangis. Tetap dengan senyum yang indah itu. Senyum penuh arti. Senyum
yang membuat gue tidak ingin melepas kan dirinya begitu saja. Tapi apa daya?
Dia harus pergi. Gue harus apa?
“mungkin, tuhan punya rencana untuk kita berdua. Entah
rencana apa, yang jelas sekarang aku..”
Gue kaget. Secara spontan, dia memutar balikkan badannya dan
memeluk gue erat, se erat-erat nya.
“will
you wait for me? Just promise me. Wait for me. It’s just…my feelings for you,
for 3 years…cannot be simply disappears. Tiga
tahun kemarin saja aku bisa menahannya, pasti aku bisa dong menahan nya lagi
untuk tiga sampai empat tahun kedepan? Yah
please percaya sama aku.yah, yah, yah” katanya sambil memeluk gue erat,
menangis dan berteriak.
“sure.”
Sungguh pagi ini adalah pagi yang berat, pagi yang
benar-benar enggak akan gue lupakan. Baru saja kemarin matahari senja dan angin
bekerjasama untuk membuat gue bahagia, lalu kenapa sekarang kau berkhianat?
Tama River, Tokyo (2015)
3 sampai 4 tahun? Hah! Bahkan sudah 6 tahun gue enggak pernah
mendegar kabar dari lo.
Lament of the
deprived.
Gue menatap langit dengan tatapan kosong penuh rasa
kehilangan.
'Love is pretty
constant. My fear is the people i fall in love with, people aren't constant.
People change all the time'
Gue harap ketika kita bertemu lagi nanti, senyum lo yang gue
banggakan hingga hari ini tetap ada dan senantiasa menjaga rawut muka lo yang
ekspresif itu.
Tiba-tiba gue terbangun dari lamunan gue ketika ada dua
pasangan remaja jepang sedang mengobrol tentang buku yang cowok nya bawa. Dan
tiba-tiba
“Karen jerarudin wa,
nihon ni imashita ka? Hontou ni?”
Jerarudin? Hah! Dasar orang jepang. Tunggu, dia bilang Karen?
Karen Geraldine?
Amelia Lucky (2005)
Duh, Malas sekali rasanya. Dua minggu lalu papaku
mendaftarkan aku kursus bahasa inggris di kota ini. Ya memang sih, nilai bahasa
inggris ku tidak terlalu bagus disekolah. Tapi tidak jelek-jelek banget kok.
Mungkin waktu ujian kenaikan kelas kemarin, aku hanya mendapatkan nilai 70. Lalu
mungkin juga papaku merasa malu. Karena memang beliau bekerja di kedutaan besar
Inggris. But why? Itu kan papaku,
bukan aku. Aku tidak ada cita-cita untuk bekerja diluar negeri. Aku cinta
Indonesia! Tapi apa daya, sudah di daftarkan dan nanti sore aku harus pergi ke
lembaga kursus tersebut untuk mengikuti placement
test. Semoga saja hasilnya bagus, agar bisa langsung masuk di level terakhir, jadi tidak perlu-berlama-lama
lagi aku harus menghabiskan waktu sepulang sekolah di tempat kursus bahasa
Inggris yang memang di minati orang banyak pada saat itu.
“eh nanti jadi ya kita pergi?” teman sekelas ku, Syifa
berbicara lewat telefon.
“yah enggak bisa syif, aku nanti mau pergi” padahal ingin test bahasa inggris di tempat kursus
itu.
“yaah, batal dong. Padahal si Niar udah di izinin pakai
mobil, walaupun yang nyetir supirnya”
“jangan batal dong syif, kalian lanjut aja tanpa aku” balas
ku menyesal karena tidak bisa ikut dengan mereka.
“yasudah lah. Sampai ketemu hari senin ya mel! PR nya Pak
Gatot jangan lupa dikerjain”
“oh iya! Untung di ingetin. Okay deh, bye syif salam ya buat
Niar”
Harus nya hari ini aku pergi dengan mereka. Have fun. Siaaaal!
Evening full of surprises (2005)
Sore ini aku putuskan untuk memakai baju oleh-oleh yang
dibawakan oleh kakak ku sepulang dari Bali. Biasa, baju Joger yang bertuliskan
‘I Love Indonesia’ biar terlihat sarkas. Agar semua guru-guru di lembaga
tersebut sadar akan arti bahasa negeri sendiri. Untuk apa kita capek-capek
belajar bahasa orang lain sedangkan bahasa kita sendiri saja belum tentu kita
kuasai secara sempurna. Memang terlihat childish,
but I don’t care! Sudah keburu kesal, mau diapakan lagi!
“udah kak gue turun disini aja.” Kata ku kepada kakak ku
sambil menggerutu sendiri didalam mobil.
“yaudah gih sana, nanti kalo selesai test nya kabarin gue ya,
gue mau ke pizza hut dulu. Laper”
“iye nanti gue telfon.” Sambil membuka dan menutup pintu
mobil.
Berat sekali rasanya. Sial, kenapa aku harus kursus bahasa
Inggris, kenapa tidak kursus piano saja!
Saat sedang berjalan menuju gedung kursus tersebut, aku diberhentikan
oleh sesosok cowok yang sekiranya sebaya dengan ku. Dia masih mengedarai motor
nya, hanya membuka kaca helm sedikit dan bertanya
“sorry mbak, mau nanya sebentar. Tempat untuk placement test
dimana ya?”
“wah, saya juga kurang tahu mas, saya juga baru mau ikut placement test hari ini”
“oh gitu, sama dong. Namanya siapa mbak?” balasnya
Sial, cowok ini sok akrab sekali. Padahal baru saja bertemu
tetapi sudah berani bertanya nama ku siapa. Bahkan berkenalan dengan ku tanpa
beranjak dari motor.
“Amel” sambil membalas jabat tangan nya.
“Jonathan. Gue parkir motor dulu ya. Nanti kita lanjut”
Aku hanya diam. Tidak ingin terlihat kalau aku lengah. Bisa
jadi itu hanya modus nya saja. Jangan-jangan dia penjual permen narkoba. Atau
jangan-jangan dia penculik anak SMP. Tapi sepertinya tidak mungkin. Yang
terekam sedikit saat berkenalan tadi, wajah nya seperti blasteran asia eropa.
Tapi masa iya blasteran kursus bahasa
Inggris? Bule kampung kah? Sudahlah masa bodoh!
Placement test di lembaga ini sangatlah mudah. Beda sekali dengan
pelajaran bahasa inggris yang aku dapatkan di sekolah ku.
“halo el!” suara ini jelas terdengar dari belakang ku.
Hah? El? Aku menengok kebelakang pelan-pelan karena aku tidak
mau terlihat over confidence kalau
memang suara panggilan itu tertuju padaku. Ternyata benar, cowok blasteran tadi yang memanggil ku dengan
sebutan ‘El’.
“ya?” balas ku singkat.
“gimana test nya
tadi?” Tanya nya padaku sambil mencoba menggiring ku untuk berjalan
bersebelahan dengannya
“gampang-gampang susah” jawab ku, singkat lagi.
“oh gitu, iya tadi gue sempet stuck ngerjain nya pas di soal ke 75, mana waktu nya sebentar
banget lagi”
“oh yang mana ya tuh? Lupa gue” sekarang aku menjawab
pertanyaan nya sedikit jutek. Ngapain sih nih cowok.
“ya yang itu deh, gue juga males ngungkitnya”
Aku mengeluarkan telefon dari tas ku. Mencoba untuk menelfon
kakak ku. Aku harap cowok ini mengerti bahwa aku sedang tidak mau di ganggu. Tetapi
tiba-tiba,
“eh El, udah makan? Temenin gue makan yuk di kantin bawah”
Gila?! Berani juga langsung pergi mengajak makan. Entah urat
nadi nya sudah putus atau memang tidak tahu malu? Tapi entah aku ingin mengenal
nya. Heh tunggu! Bukan berarti aku suka atau mungkin aku jatuh cinta ya.
Hitung-hitung pelampiasan ke kesalan aku
untuk hari ini. Kali saja dia bisa menghiburku.
“hah? Ada kantin ya dibawah?”
“iya tadi pas gue parkir motor, gue liat ada kantin di
belakang parkiran motor.”
“yaudah” balas ku, singkat lagi.
Saat jalan ke kantin, aku tidak banyak berbicara. Hanya
mengangguk-ngangguk seperti anak anjing. Pikiranku melayang entah kemana. Kita duduk
di satu meja kecil yang berada di pojok ruangan kantin ini.
“El, kelas berapa?” dia memecahkan pikiran melayangku
“2 SMP, lo?”
“lah, sama dong kita.”
“bohong lo!” Wajar aku bilang bohong. Kalau melihat dari
postur tubuhnya, seharusnya dia kelas satu SMA. Badannya tinggi sekitar 170cm,
sedikit gemuk dan besar. Mungkin karena gen
keluarganya yang bule jadi badannya sedikit lebih tinggi kalau dibandingkan
dengan kalangan kita.
“beneran, nih liat kartu pelajar gue” dia sibuk mencari kartu
pelajar di dompet nya.
Oh ternyata dia salah satu murid SMP swasta yang bernama di
kota ini. Bernama karena memang isinya kebanyakan orang-orang kaya.
“dih iya, tua lo Jona...siapa tadi namanya? hehe”
“Jonathan, Jonathan Widiane”
“ok karena lo manggil gue se enak jidat, gue juga mau manggil
lo se enak jidat gue, okay Yonah? Jonah? Atau Onah? Hahaha”
“hahaha jangan dong. Kasian kan bokap nyokap gue kalo tau”
“bodo Nah! Hahaha” aku tertawa geli. Pertama kalinya aku
merasa dekat dengan seseorang yang baru aku kenal kurang lebih dua jam yang
lalu.
Makanan kita datang. Dia memesan gnocchi bolognaise yang dia bilang abal-abal, aku memesan nasi
goreng rendang. Kita mengobrol banyak tentang sekolah masing-masing. Tidak lupa
juga diselingi tertawa kecil karena memang cerita di sekolah nya itu konyol
semua.
“masa sih Nah? Lo sama temen-temen lo ngisengin orang buang
air besar di toilet sampai di skors seminggu?” tanyaku heran.
“iye El. Lucunya pas kita abis ketawa keras-keras kepala
sekolah gue yang mirip ondel-ondel papua muncul dong. Padahal seinget gue dia
lagi ada kunjungan ke gedung SMA”
Seperti yang aku bilang tadi, sekolah orang kaya di kota ini.
Dari TK-SD-SMP-SMA bahkan SMK Broadcasting
pun ada. Lengkap sekali. Dan sekolah ini punya theater sendiri. Sering dipakai untuk acara lomba membaca puisi,
lomba kesenian tari, drama dan lain-lain. Aku tahu sebanyak ini karena aku
pernah ikut lomba bermain musik yang di selenggarakan di sekolah ini. Lumayan,
juara dua.
“hahaha bodoh!”
Tiba-tiba handphone ku berbunyi, kakak ku. Dia menawarkan
untuk dijemput sekarang atau nanti. Aku bilang nanti saja.
“mau balik bareng gue aja El?”
Pulang bareng? Dengan orang yang baru aku kenal? Absurd but i kinda want it anyway.
“emang lo bawa helm dua Nah?”
“kebetulan bawa, soalnya tadi adik gue ikut sampai stasiun”
“oh gitu, keberatan ga lo?”
“ga lah, kan gue yang nawarin El. Gimana sih! Hahaha”
Aku senang sekali. Ini pertama kalinya aku langsung dekat
dengan orang yang baru aku kenal. mungkin pembawaan dia yang sok dekat membuat
ku mudah beradaptasi. Dia hebat. Semoga dia tidak seperti cowok-cowok lain yang
pernah dekat dengan ku. Setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu membuat ku
nyaman dan tertawa.
And it makes me
wonder after this day, what’s next?
The road still has no end (2009)
Aku lulus SMA dengan hasil yang memuaskan. NEM ku cukup
tinggi untuk memasuki universitas impian negeri ini dengan jalur undangan. Pacar
ku datang saat pengumuman kelulusan. Sayang pacar ku bukan dia, tetapi orang
lain. Mungkin kedekatan kita hanya sebatas sahabat. Walaupun terkadang aku
mengharapkan lebih. Pacar ku sekarang seorang mahasiswa di salah satu
universitas negeri ternama di kota ini, bahkan di seluruh nusantara. Sempat aku
ingin melanjutkan studi ku di sana. Tetapi aku berfikir dua kali sejak kejadian
kemarin. Jonah datang kerumah ku dengan wajah hilang arah. Pasti ada masalah,
entah apa. Aku enggan bertanya. Tidak banyak kata yang terucap kemarin. Hanya
saja matanya menunjukkan bahwa dia telah kehilangan seseorang. Dan aku yakin
pasti Karen, Karen Geraldine. Gadis bule yang sering dia ceritakan. Aku sih
tidak cemburu terhadap Karen, malah aku kesal sekali dengan Jonah. Kalau memang
dia suka, kenapa dia tidak langsung berinteraksi saja dengan Karen dari awal?
Padahal kalo dia ‘menyulap’ lagi seperti yang dia lakukan empat tahun lalu terhadap
ku, aku yakin Karen pasti suka. Tapi aku tidak tahu ya, aku belum mendengar
langsung dari mulutnya. Mungkin saja bukan karena Karen, melainkan hal lain.
“El, besok temenin gue cari universitas yuk. Di daerah
barat.”
“kenapa harus barat Nah?”
“gue pengen jauh-jauh dari sini.”
Itulah kata-kata terakhir sebelum dia pulang kemarin.
Tatapannya. Kosong. Aku mulai khawatir terhadapnya. Aku ingin membuat nya
tersenyum lagi, bahkan selamanya. Aku tahu kalau aku sudah punya pacar, aku
tahu cinta itu tidak bisa di bagi dua. Tetapi aku terlanjur menyukai nya.
Selama empat tahun terakhir ini aku selalu bepergian mencari pengganti sosok
nya dalam hati ini. Dari setiap jalan yang aku telusuri, pasti kembali ke arah
dia. Bahkan pacarku yang sekarang tidak bisa menggantikan sosok nya secara
penuh dalam perjalanan ini.
Apakah ini salah?
Entah apa yang menyebabkan aku ikut mendaftarkan diri ku
bersama Jonah di universitas ini. Tapi tidak ada salahnya, universitas ini juga
termasuk universitas swasta unggulan di kota ini. Terkenal karena jurusan IT
nya. Walau memang aku dan Jonah tidak memilih jurusan IT dan juga aku dengannya
tidak memilih satu jurusan. Dia memilih Business
school of management dan aku memilih jurusan Marketing Communication. Tidak tahu kenapa alasannya aku memilih
jurusan yang berbeda dengannya. Padahal aku tahu persis alasan ku hari ini
pergi dengannya untuk mengikuti perjalanan nya dari belakang dengan harapan dia
menoleh ke arah ku suatu saat nanti.
“misalkan nanti kita keterima disini, kalau bisa kita satu
kos-an ya. Gue ga pinter bergaul dengan orang-orang baru El”
“pede banget lo! Gue kan cuman iseng daftar disini, tujuan
gue universitas negeri heh!” padahal aku senang sekali dia berkata seperti itu.
Secara tidak langsung dia membutuhkanku dan memang aku sudah mendapatkan izin
orang tua ku untuk melanjut kan studi di universitas pilihan aku, dimana saja.
“hehe iya ya, makasih ya udah nemenin gue kesini El”
“anything
for a friend, Nah” Friend? Sial!
Gila! (2012)
Tanpa terasa tiga tahun cepat berlalu begitu saja. Aku bertekat
untuk menyelesaikan studi ku tepat waktu. Tetapi sial nya Jonah harus extend setahun di karenakan satu mata
kuliah yang paling dia segani, Statistik. Tiga tahun ini juga aku lebih banyak
menghabiskan waktu dengan Jonah dibandingkan mantan ku. Aku sering tidur di
kamar kos dia begitu juga dia. Tenang, kita tidak melakukan hal bodoh kok.
Sebodoh-bodohnya yang pernah aku lakukan hanyalah tak sengaja aku mencium nya. Itu
bodoh ya? Tapi waktu itu aku baru putus dengan pacar ku dan dia sedang dekat
dengan junior di salah satu kelas
mengulang nya. Biasa, junior-junior cantik. Tapi sayang,
dari info yang dia dapatkan, Junior tersebut
sudah punya pacar. Intinya kita sama-sama galau.
“dah
dari pada lo galau, gue juga. mending kita beli bir enam kaleng di minimarket depan. Gue juga masih
nyimpen se botol Baileys nih”
ajaknya.
Ajakan setan. Dia tidak pernah segila ini dulu. Banyak yang berubah
dari diri nya ketika masuk kuliah di universitas ini. Dia jadi terlihat sedikit
introvert. Dia lebih memilih sendiri
dikamar, baca buku atau bermain game di bandingkan pergi keluar dengan
teman-teman kos lainnya. Tetapi aneh nya ketika aku ajak pergi keluar, pasti
dia tidak menolak. Mantan terakhir nya adalah sahabat aku sendiri yang
kebetulan membujukknya untuk putus dengan mantan nya itu adalah aku. Jahat ya?
Tapi sebenarnya aku memberikan dia jalan yang terbaik. Aku tahu betul sahabat
aku dan juga aku tahu betul kamu, Jonah.
Malam ini, kita berbicara banyak tentang cinta pertama dia,
Karen. Tumben sekali. Mungkin dia rindu. Jarang sekali kita membicarakan
tentang dia, tetapi sekali nya topik itu muncul, pasti tatapan kosong itu
datang lagi.
“Hey Karen Geraldine! Gue tau gue belum pernah ketemu sama
lo, tapi saat lo berdiri di depan gue nanti, hal pertama yang bakal gue lakuin
adalah nge jitak lo sampe benjol! Ngeselin banget lo bikin sahabat gue kaya
gini sekarang, iya ga Nah? Hahaha” Sahabat, lagi. Entah mulut dan perasaan ku
tak pernah sinkron di hadapan Jonah. Bahkan ketika aku mabuk.
“thanks El, lo
emang yang paling ngertiin gue” Balas
Jonah sambil memelukku hangat.
Tidak lama dari itu aku mencium bibir nya selama empat detik.
Dia terlihat kaget. Bodoh apa yang aku lakukan! Lebih baik aku pura-pura
tertidur saja dari pada aku harus menahan malu. Dan dia memelukku diam sampai
dia pun tertidur pulas.
Malam ini malam
gila yang tidak akan pernah aku lupakan.
Omelette penuh cinta (2015)
Aku terbangun dari malam yang hectic. Sudah lebih dari 90 menit Jonah belum kembali juga.
Biarlah, paling ke asyikan jogging. Lebih baik aku memasak masakan enteng untuk
kita sarapan. Perut ku lapar sekali! Tapi masak apa ya? Cuman ada telur dan
ramen instant. Hm..Masak omelette jamur
favorit Jonah saja deh!
Karen Geraldine (2015)
Hari ini hari terakhir ku di negeri Sakura untuk melakukan event roadshow buku ku. Mimpi ku sebagai penulis internasional akhirnya
terpenuhi tahun lalu. Walaupun ini bukan pekerjaan utamaku. Aku adalah seorang
designer yang mempunya butik kecil dipinggiran kota Paris. Yang membuat ku ingin
menjadi penulis seperti ini adalah dia, Widi. Aku mulai menulis karena aku
menyesal tidak tahu nama panjang nya, alamat nya, bahkan nomor telefon nya selama
enam tahun silam. Kepergian ku ke Paris secara terburu-terburu 6 tahun yang
lalu membuat ku ke walahan untuk mencari nya. Karena tak ada sarana lagi, kucurahkan
semua isi hatiku terhadap tulisan itu. Berharap suatu hari nanti kau
membacanya. Karena aku tahu, hobi kamu adalah membaca buku, Wid. Dan-Tuhan pun
mengabuli permintaanku secara perlahan. Tahun 2011, curahan isi hati ku menjadi
salah satu buku top seller di Paris sana. Tahun kemarin aku baru saja
menandatangani kontrak yang berisikan bahwa buku aku akan di terjemahkan dalam
empat bahasa. Jepang, Inggris, Korea dan Indonesia. Prestasi yang aku dapatkan
sekarang, thanks to you wid. Aku
harap kamu membaca buku ku suatu hari nanti.
Memories will be memories (2014)
Hari ini aku berada di Indonesia selama seminggu. Kunjungan
ke salah satu publisher terkenal di negara ini. Tetap aku menyempatkan diri
untuk kembali ke kota itu. Aku bertemu banyak teman SMA ku. Sayang, tidak ada
yang mengetahui keberadaannya. Yang tersisa hanyalah kenangan-kenangan yang
berserakan di pantai itu. Restoran italy
favorit ku juga sudah tidak ada lagi. Di gantikan gedung pencakar langit yang
berfungsi sebagai Apartement and hotel. Tetapi
di saat aku berdiri di karang itu, melamun, seorang wanita paruh baya yang
sedang membawa anjing nya berlari di pinggir pantai menghampiriku.
“mbak Karen?”
Aku tersadar dari lamun ku dan menoleh. Ternyata dia adalah
mantan waitress di restoran italy favoritku dulu.
“kemana saja mbak?”
“aku studi di cergy,
Paris mbak. Kangen ya? Hehe” aku turun dari karang itu dan langsung menjabat
tangannya.
“bukan aku kali mbak Karen, tapi cowok yang waktu itu yang
kangen”
“cowok? Widi maksudnya mbak? Masih inget aja.” Muka ku
memerah sedikit.
“masih dong.”
“dia apa kabar ya mbak? Masih di kota ini atau tidak ya?”
“kayaknya sudah tidak mbak, tapi sebulan sebelum restoran Italy
itu ditutup, dia sempat datang”
“serius mbak? Dia bilang apa?” aku kaget nan senang. Tiada
tara.
“dia hanya menanyakan keberadaan mbak Karen. Apakah mbak
Karen sudah kembali atau belum. Dia datang dengan teman wanita nya.”
‘Dia masih menunggu ku? Tapi..Wanita? Ehm..pacar nya mungkin
ya.’
Tanpa sadar air mata ku mengalir.
“mbak Karen, kok menangis?” tanya si waitress khawatir.
“enggak kok mbak, ini air mata bahagia.” Aku berusaha tersenyum
sekuat tenaga.
“mbak Karen maaf, aku harus kembali ke hotel untuk ganti
seragam. Aku bekerja di hotel itu. Hari ini aku dapat shift malam” ke
khawatiran si waitress sangat terasa.
Kalau mungkin ada waktu lebih, aku yakin pasti dia akan menemaniku sore ini.
Aku hanya diam membelakangi nya. Menatap ombak, langit dan
matahari senja yang sangat indah. Akhirnya dia meninggalkan ku sambil berteriak
dari kejauhan.
“mbak tenang aja, wanita itu cuman teman nya kok.”
Tahu dari mana dia? Memang dia cenayang? Tapi jujur penyebab ku
mengeluarkan air mata ini karena aku mendengar kabar tentang nya di sore yang
indah ini. Sore yang sama seperti enam tahun lalu.
Widi, Aku merindukanmu.
My story begins (2006)
Aku mendapatkan tugas biologi yang amat banyak untuk minggu
depan. Memang, deadline nya masih
lama. Tetapi aku bersih keras untuk menyelesaikan nya secepat mungkin. Aku
terpaksa mengisi waktu istirahat ke dua ku di perpustakaan sekolah.
“sorry bangku ini kepakai tidak?"
Tidak ada jawaban dari cowok yang sedari tadi membaca buku
novel yang berjudul Eleven Minutes.
Karyanya Paulo Coelho. Saat aku duduk disamping nya, ternyata dia sedang
menyumbat kuping nya dengan headset iPod. Terdengar suara keras,
Heaven isn’t too far away, closer to it everyday.
Warrant – Heaven? Dia suka lagu seperti ini? Selera musiknya sama seperti papa ku. Tetapi kenapa dia harus mendengarkan lagu dengan volume sekeras ini? Menggangu ku saja.
“eh, sorry volume
nya bisa dikecilkan ga?” aku menyentuh bahunya.
Tidak kusangka sentuhan barusan sama sekali tidak membuat nya
menoleh ke arah ku. Aku putuskan untuk mengambil paksa buku yang sedang dia
baca. Kesal!
Dia cepat-cepat melepaskan headset nya dan akhirnya menoleh ke arah ku.Tatapan nya. Luas penuh
kebencian.
“sorry, ada apa
ya?”
“tolong, bisa di kecilin ga volume nya? Aku merasa terganggu.” Balas ku sambil mengembalikan buku Paulo Coelho itu kepadanya.
“oh iya, sorry ya.”
Sambil beranjak dengan gerak gerik terlihat kesal, ingin cepat pergi.
“sorry ini
perpustakaan soalnya, aku ingin mengerjakan tugas dengan tenang”
Dia mengacuhkan aku dan langsung pergi tanpa sepatah kata
apapun. Mungkin dia sangat kesal dengan perilaku ku tadi. Tapi apa daya, suara
musik yang keras itu mengganggu konsentrasi ku. Lagipula tidak baik untuk
pendengaran. Tujuan ku kan baik!
The irrational feelings (2007)
Pagi ini terlihat lebih cerah dari biasanya. Selain aku
mendapatkan nilai yang bagus saat kenaikan kelas, aku pun berhasil masuk jurusan
favoritku, IPA. Banyak hal yang terjadi selama satu tahun ini. Selain aku
mendapatkan izin untuk pergi membawa mobil sendiri, aku menemukan hobi baru ku.
Baca buku.
“sejak kapan kamu suka baca buku Ren?” Tanya teman yang memecahkan
konsentrasiku mencari buku di rak international
best seller.
“ga tau aku juga bingung Vi” balasku.
Mungkin aku tidak berani berbicara padanya, lebih tepat nya
tidak ingin. Malu. Alasan ku mulai membaca buku lagi adalah Dia. Dia yang tidak
aku ketahui namanya tetapi selalu aku perhatikan di perpustakaan sekolah. Dia
yang aku tegur dulu karena mendengarkan lagu terlalu keras. Dia yang selalu
datang ke perpustakaan untuk tidur-tiduran sambil membaca buku di sofa
perpustakaan kala pulang sekolah. Dia yang selalu membuat aku berandai-andai
menjadi penulis. Dia.
“nah ketemu nih bukunya. Kamu ga cari buku Vi?” aku mengambil
buku Paulo Coelho yang berjudul Eleven
Minutes. Benar sekali, buku yang waktu itu dia baca.
“ga deh, aku ga suka baca buku. Apalagi tebal-tebal. Keburu
bete liat nya” balas nya acuh.
Pernyataan teman ku mengingatkan ku pada waktu aku masih SMP.
Aku tidak suka membaca buku yang terlalu tebal. Hanya satu buku tebal yang aku
selesaikan. Di buku tersebut tertulis “cheerful
as always, Karen” dan juga tanda tangan penulis nya, J.K. Rowling. Seri
Harry Potter yang berjudul Harry Potter
and the Order of the Phoenix. Kebetulan sekali Client di kantor paman ku kenal dengan J.K. Rowling. Paman ku
memberikan buku itu pada ku sebagai oleh-oleh yang paling mahal. Terima kasih
atas bukunya paman.
Buku novel yang aku baca setelah itu adalah The Alchemist. Karya Paulo Coelho. Aku
terinspirasi dari Dia. Lagi-lagi dia. Entah mengapa aku ingin mengenal nya
lebih dekat. Tapi aku takut. Aku takut dia terlanjur membenci ku karena
perbuatan ku dulu di perpustakaan. Atau mungkin aku takut jatuh cinta. Perasaan
ini mulai patut dipertanyakan saat aku berpapasan di perpustakaan sekolah
kemarin lusa. Dia terlihat senyum-senyum sendiri dengan buku yang sedang dia
baca. Entah buku apa.
Aku ingin tahu. Aku
ingin mengenal mu. Aku ingin duduk di samping mu mendengarkan cerita mu. Aku ingin
berjalan di jalan yang sama dengan mu.
Semenjak kejadian itu, setiap sore aku selalu datang
keperpustakaan untuk memperhatikanmu, berharap kau menoleh ke arah ku dengan
tatapan hangat. Bukan tatapan yang pernah kau berikan padaku waktu itu. Duh,
apa sih yang aku pikirkan. Jatuh cinta? Tidak mungkin. Terlalu cepat dan aneh
rasanya jikalau aku bilang aku jatuh cinta kepadanya. Hati kecil ku tetap
berkata tidak pada saat ini. Belum waktu nya. In some point, this world isn’t fair. Aku depresi ketika memikirkan
akan hal itu, padahal belum tentu dia memikirkan aku, sekarang.
Finally! (Karen, 2009)
Lulus!
Akhirnya aku bisa melepaskan seragam putih abu-abu ku segera. Sudah muak
rasanya aku bertemu dengan mata pelajaran kimia. Yang aku suka dari kelas IPA
hanyalah biologi dan fisika. Tetapi saat pemberitahuan lulus SMA, aku
dikejutkan oleh nilai kimia ku. Justru nilai mata pelajaran yang paling aku
benci selama dua tahun terakhir ini adalah nilai paling tinggi dibandingkan
biologi dan fisika. Tak tahu deh!
Siang itu aku dan sahabat-sahabat ku sedang makan siang di
kantin sekolah. Seperti biasa. Bersenda gurau, iseng, bahkan flashback ke jaman dimana kita masih OSPEK
SMA. Di mana aku di perlakukan ‘special’ oleh
senior-senior ku. Aku di anggap ratu karena memang aku mempunyai turunan Inggris.
Papa ku warga negara Inggris dan ibu ku Indonesia asli, Palembang tepat nya.
Katanya sih dulu mereka dipertemukan oleh tuhan di bandara karena tas yang
mereka bawa tertukar. Kalau aku mendengar cerita papa dan mama, seperti aku
sedang menonton film-film FTV. Sungguh malu tapi terkesima. Aku kira kisah
tersebut hanya ada di dalam FTV saja.
“Ren, sadar ga sih. Dari tadi lo lagi diliatin” singgung
teman ku, Norman.
“masa sih Man? Sama siapa” balas ku
“kamu ga sadar Ren? Liat deh di depan toko nya ujang.” Balas
sahabat ku, Nifa.
Secara spontan mataku tertuju langsung ke arah yang Nifa
maksud. Aku memergoki matanya yang sedang tertuju ke arah ku. Dia. Ya betul,
Dia yang sering aku perhatikan di perpustakaan hampir setiap sore. Dia yang
waktu itu menatap ku penuh dengan tatapan benci. Dia yang membuat ku merasa
dunia ini tidak adil.
Tanpa sadar aku tersenyum kepadanya. Dia terlihat kaget.
Seperti sedang melihat ku tetapi dengan tatapan kosong, menghayal. Tidak lama
disadarkan oleh ku, akhirnya Dia melambaikan tangan nya ke arah ku. Hah?
Melambai? Aku tertawa kecil.
“itu kan si Widi, anak IPS I” tanggap teman ku yang kebetulan
mempunyai banyak teman di kelas IPS, Andra.
“dia juga blasteran sama kaya lo Ren. Bedanya dia blasteran
Jerman.” Lanjut Andra.
“udah lah biarin aja, kalo emang dia mau kenalan sama lo juga
udah telat kali Ren. Udah lulus baru kenalan, sakit kan” Norman sambil melahap ayam yang dia pesan tadi.
Betul kata Norman. Tetapi dalam kamus ku, tidak ada kata
terlambat. Semoga Dia menyadarinya. Tidak lama, dia beranjak dari tempat duduk
nya. Datang ke arah meja ku dan teman-teman ku.
“Ha..lo” Widi sambil menawarkan tangannya. Berharap sambutan
tangan kecil ku.
“iya, halo.” Aku membalas jabatan nya.
Dua hari setelah pengumuman kelulusan (2009)
Senang nan sedih. Senang karena nanti siang aku akan pergi
bersama Widi. Sedih karena besok aku harus berangkat ke Paris. Papa ku mendadak
harus pindah ke negara pelopor feminisme moderen itu selama beberapa tahun. Dia
tidak ingin meninggalkan aku dan mama ku disini. Belum siap. Adik ku memang
sudah dari SMP disana bersama paman ku. Di putuskan lah aku harus pindah ke
Paris besok dan melanjutkan studi ku di Cergy.
Aku tidak di perbolehkan untuk melanjutkan studi di Indonesia, walaupun disini
ada tante ku. Tuhan, mengapa harus seperti ini? Baru saja kau berikan aku
kesempatan untuk mengenal nya, mengapa sekarang kau malah membuang kesempatan
itu ke neraka? Mungkin Tuhan punya rencana. Atau jangan-jangan Tuhan telah
mencampakkan hamba nya ini? Apapun alasannya, aku harus tetap berterima kasih
pada Nya untuk hari ini. Karena hari ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu.
Akan aku utarakan semua entah bagaimana caranya. Tetapi, bagaimana caranya?
Setiba di Kafe itu. Aku dapati dia sedang duduk di pojok
Kafe, melamun melihat kearah lalu lalang aktifitas pinggiran jalan dikala siang.
Entah apa yang sedang di lamunkan nya. Aku memutuskan untuk menyapanya duluan.
Dua hari setelah pengumuman kelulusan
part
two (2009)
Tak kusangka, orang yang sedari tiga tahun lalu aku puja itu
berada di hadapan ku. Jika semua
berjalan sesuai dengan rencana, hari ini aku akan mengatakan dua hal. Baik dan
buruk nya. Perasaan dan kenyataan yang akan aku, dan kamu tempuh. Tapi jika
rencana ku gagal, biarlah hari ini menjadi hari spesial yang bertepuk sebelah
tangan.
Selain dia menanyakan buku ku yang aku anggap sebagai
‘senjatanya’, tidak banyak yang aku bicarakan dengan nya. Aku lebih banyak
tersenyum ketika dia sedang bercerita di Kafe itu. Habis sudah macchiatto ku. Sudah hampir dua jam kita
bersenda gurau. Aku tahu sekali dia sudah mulai bosan karena dia tidak bisa
merokok di Kafe ini.
“eh, bosen ga sih? Pindah yuk sekalian aku mau makan, laper
deh” tanya ku kepadanya.
Terlihat jelas sekali dari gerak-gerik nya bahwa dia memang
bosan disini.
“ayo! Aku juga sedikit laper nih. Kemana ya?” balasnya.
“ke restoran italy favoritku
yuk, cuman beberapa blok aja kok dari sini” balasku ekspresif.
“waah ayo deh, kebetulan aku juga lagi ngidam gnocchi ”
Really Wid? Ngidam? kebetulan atau ingin merokok saja? Entah.
Di depan Kafe itu aku mengeluarkan kaca mata gaya ku.
Sebenarnya aku ingin sekali memakai kacamata. Bukan untuk menyama-nyamakan aku
dengan Widi ya. Tetapi memang belakangan ini kacamata adalah salah satu
aksesoris wajah.
Tiba-tiba dia menanyakan akan keberadaan kacamata ku disaat
kita masih sekolah.
“loh, kamu pakai kacamata juga? kok aku ga pernah lihat waktu
kita masih sekolah?” Tanya nya
tersipu heran.
“ngga sih, ini kacamata gaya aja. Ngomong-ngomong, kok kamu
tau aku ga pernah pakai kacamata kalau disekolah? Wah waaah!” balasku ekspresif
seperti biasa.
“eh engga kok aku nebak aja hehe”
“Hello my secret
admirer!” kata ku menggoda.
Dia hanya menggarukkan belakang kepalanya berulang-ulang,
tidak berani menatap mataku.
“sebenarnya, aku juga sering kok mengamatimu saat jam
istirahat”
Apa yang telah aku katakan adalah tidak sepenuh nya salah.
Aku pun tidak berani menatap matanya, hanya menatap ke bawah. Kekhawatiran ku
muncul tentang apa yang akan mungkin terjadi setelah ini. Gelisah.
“ah masa sih? Wah waaah, Halo juga my secret admirer!” balas
nya menggoda ku.
“engga deh, bercanda! Hehe” aku kembali tersadar dari
kekhawatiran ku. Kembali ceria, ekspresif. Berusaha untuk menutupi semua yang
aku pikirkan sedari tadi.
“Kita jalan kaki aja
ya, dekat kok dari sini tempatnya.” Lanjut ku.
Sinar matahari senja hari ini indah sekali. Tak lupa juga
sinar matahari tesebut menaruh segala harapan kepada angin untuk menjadikannya
salah satu senja yang lebih indah. Angin pun mengabulkan permintaan matahari,
dan juga aku.
Disaat perjalanan menuju restoran itu, tidak ada sepatah kata
yang terdengar dari mulut kami. Hanya bayangan dan langkah kita yang berbicara.
Seirama.
Banyak yang aku khawatirkan akan keberadaan hari ini dan juga
keberadaan rasa yang aku pendam selama tiga tahun terakhir.
“kenapa?” tanya nya seakan ingin mengetahui apa yang sedang
aku pikirkan.
“hah? Gakpapa kok.” Balasku singkat. Sekarang belum waktu
nya.
“masih jauh ga nih? Laper tau, keburu kurus nanti akunya”
“kita baru jalan 2 blok loh. Kamu udah ngeluh? Manja ih!”
Tiba-tiba secara reflek, jemari kecil ku ini menyentuh bahu
nya yang sedikit besar itu. Sial, apa yang sedang aku lakukan!
“ahaha ga ih bercanda, abis kelihatan tegang banget dari
tadi. Mau puter balik aja? Aku ambil mobil nih kalo mau. Terus aku anterin
pulang”
“aku laper tau. Ga ada makanan juga dirumah. Lagian ngapain
juga naik mobil, kamu mau melewati sore yang indah ini begitu aja? Sayang
taaau” balasku.
Kata-kata itu reflek keluar dari mulut ku. Malu. Hari ini
tingkah laku ku dikendalikan oleh reflek yang bodoh. Tetapi tiba-tiba dia
memegang jemari ku dan memegang nya erat.
“eh..” aku kaget nan senang.
Terimakasih
matahari, terimakasih angin, terimakasih reflek atas sore nan indah ini.
Feeling anxious (2009)
“Sore mbak, mas. Table untuk 2 orang ya? Datang dengan pacar
nya mbak?”
Heh? Table? Mbak? PACAR?
Tanpa sadar kita sudah sampai direstoran italy favoritnya.
Disaat itu juga kita sadar dan melepaskan pegangan tangan kita sepanjang jalan
tadi.
“hah! He wish. Hahaha.
Iya mbak untuk 2 orang, dismoking area ya
mbak biar dia bisa ngerokok” balas ku sambil menunjukkan telunjuk kepada nya.
“loh, kok kamu tau kalau aku ngerokok?” terheran.
“kan tadi aku bilang, aku juga sering mengamati mu dulu”
Aku mulai membuka kartu ku secara perlahan. Memperlihatkan
kepadanya bahwa sebenarnya aku duluan lah yang mengamati nya. Dia sempat
terdiam beberapa detik. Entah, mungkin melayang.
“heh, kok bengong katanya laper, ayo sini” aku menjulurkan
tangan ku dari kejauhan sekitar sepuluh meter.
“mbak aku pesen menu biasa ya. Kamu pesen apa?”
“gnocchi maison terus
minumnya lychee ice tea ya”
“okay, ditunggu paling lama 20 menit ya”
Restoran ini menjadi restoran favorit ku ketika restoran ini
baru dibuka setahun yang lalu. Aku suka sekali design nya. Classy.
Selain itu, restoran ini tidak kalah asik nya dibandingkan perpustakaan untuk
membaca buku. Terlihat pinggiran koridor depan terdapat rak buku sepanjang tiga
meter. Berisikan buku dari manca negara. Waktu pertama kali menemukan restoran
ini yang ada di benak ku adalah dia. ‘aku harus mengajak nya kesini suatu saat
nanti’
10 menit berlalu begitu saja, mengobrol dan diselingi tertawa
kecil.
“liat deh pantulan matahari di air pantai nya, bagus ya” aku sambil
meminum green tea latte favorit ku
mencoba untuk memberi kode kepadanya.
“iya, nanti dari sini kita ke situ yuk”
Aku terkejut dan memundurkan badan yang enteng ini sedikit. Gotcha boy! Rencana ku harus berhasil
hari ini!
“hehe boleh deh, hitung-hitung mungkin ini bakal jadi terakhirnya
kali nya aku kesini” balas ku
Terlihat wajah heran nan bingung dari muka nya.
“haaah kenyaaang” kata ku sehabis makan menu favoritku, fettucini alfredo. Selama makan tadi,
tidak ada yang spesial. Hanya aku yang mencuri-curi pandang ke arah nya.
“ehehe iya sama.” Sambil mengambil kotak rokok favorit ditas
kecil beserta koreknya
“wah udah jam 5 sebentar lagi sunset. Jadi kepantai kan?”
tanya ku excited
“jadi dooong, tunggu ya sebatang dulu”
“ah semoga sebatang kamu ga kaya papa aku, sebatang nya
sepanjang lidi!”
“hahahaha”
Speak of the devil, Tiba-tiba handphone aku berdering. Papa ku. Tak kusangka,
orang yang aku banggakan selama ini merusak rencana ku hari ini. Aku harus
pulang. Sebenar nya tidak sepenuh nya salah papa ku. Aku lupa packing untuk perjalanan besok.
“eh maaf yaaa, aku bener-bener minta maaf. Aku harus pulang.
Gajadi kepantai. Besok aja deh jam 10an, Gimana?” mencoba bernegosiasi dengan
nya agar plan b ku tercapai.
“harus banget ya jam 10 pagi? Kepagian kali, lagian pasti
panas
hahaha” balasnya.
“please, ya jam 10.
Turutin aja. Okay? Aku pergi dulu sampai ketemu besok!” aku memaksa dirinya untuk datang besok. Harus!
“eh. Gak aku anterin aja?” sambil mematikan rokok yang sedang
dia hisap.
“gausah, kamu disini aja dulu. Wakilkan aku menjadi saksi
kalau sore ini adalah sore yang indah, daaah”
“eh iya, daaah” dia terlihat bingung tetapi tidak beranjak
dari kursi nya.
Maafkan aku sore yang indah ini. Bukan bermaksud menghianati.
Walau aku tidak menyaksikan mu sampai kau tenggelam, aku harap kesaksian Widi
dapat membuat mu sedikit senang. Maafkan aku Wid. Sekali lagi maaf telah
membuat kalian kecewa. Aku tidak berani menoleh kearah nya. Rasa kecewa ku
terhadap diri sendiri terlalu besar.
Hamparan pasir pantai putih (2009)
Aku datang lebih pagi ketempat ini. Satu jam sebelum janji ku
kepadanya. Tidak tahu kenapa aku ingin datang lebih cepat. Pikiran aku melayang
entah kemana ketika aku duduk di pasir pantai ini. Kosong, bingung, tesesat di
antara problematika ku sendiri. Kenyataan yang sulit aku terima. Keadaan yang
membuat ku terpuruk jauh di lubang penuh perasaan duka. Apa yang harus aku
lakukan? Apakah harus aku meminta dia untuk menunggu ku sampai selesai studi
ku? Tetapi siapa lah aku meminta nya untuk menunggu. Itu namanya egois. Tapi
disisi lain aku ingin dia tidak menunggu ku karena takut aku tidak akan pernah
kembali, lagi.
“hey! Sudah dari tadi ya?” tak sadar sudah satu jam lebih aku
duduk termenung disini.
“hey!” gawat. Apa yang akan aku katakan nanti?
“datang dari jam berapa?” tanya nya sambil melihat jam tangan
yang dia pakai.
“jam 9” balas ku singkat.
“kamu datang dari jam 9?! Kemarin aku ga salah dengar kan?
Kamu minta aku kesini jam 10. Eh bener ga sih?”
“iya bener kok. Aku cuman ingin datang lebih pagi aja. Mau
minta maaf.”
“eh? maaf?”
“iya, meminta maaf kepada hamparan pasir ini”
“kenapa?”
Dulu aku pernah bermain dengan adik ku di pantai ini.
Iseng-iseng, aku dan adik ku menaiki karang tersebut dan mengucap janji-janji
anak kecil. Janji ku adalah suatu hari nanti aku akan berdiri di karang ini
dengan orang yang aku suka. Sungguh geli jika aku mengingatnya. Tetapi, mungkin
sekarang adalah moment yang tepat.
Karena orang yang aku suka, berada di samping ku sekarang. Tanpa berfikir dua
kali aku berlari ke karang tersebut.
“Heh kamuuu jangan bengong aja, sinian dong!” ajak ku ketika
aku menaiki karang yang setinggi dua meter itu.
“akhirnya aku punya
waktu untuk bisa berdiri dikarang ini.” lanjut ku.
“hm memang ada apa dengan karang ini?” balas nya sambil
membakar rokok.
“dulu
aku pernah janji dengan adik ku waktu kecil.
Suatu saat nanti, aku akan berdiri dikarang yang besar ini, dengan orang yang
aku suka.”
“oh kamu punya adik?”
“iya tapi dia udah berangkat duluan 3 tahun lalu ke Paris. SMP disana”
“oh gitu, terus kapan adikmu pulang kesini?”
“pulang? enggak akan. Aku yang kesana. Aku juga akan
melanjutkan studi ku di Cergy – Pontoise selama tiga tahun”
Topik yang aku benci akhirnya datang juga. Dia hanya terdiam
sambil menatap kebawah.
“masih inget gak, waktu kita kelas satu SMA saat kita duduk
bersebelahan di perpustakan yang creepy itu,
kamu aku tegur karena terdengar lagu yang sangat keras dari headset kamu? Warrant – Heaven.” Lanjut ku.
Dari sekian banyak opsi, dia memilih diam. Rawut muka nya
berubah seketika.
“mulai dari situ, aku sudah mulai mengenal mu. Ingat kah?”
Aku sudah tidak tahan lagi. Suara ku melemah, mata ku mulai
berlinang air mata.
“yang jelas semenjak hari itu kalau kamu sadar, akupun
melakukan hal yang sama seperti mu dikantin. Aku selalu datang keperpustakaan setiap
jam empat sore hari jumat untuk mencari tahu buku apa yang sedang kamu baca.
Aku freak ya?” lanjutku
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut nya.
“maka dari itu, kemarin adalah hari dimana yang aku tunggu-tunggu
selama 3 tahun ini. Tapi sayang siang ini aku harus berangkat ke Paris. Hari
yang aku tunggu hanya berlangsung sehari saja. Sedih ya?” lanjutku sambil
mengusap kan air mata. Aku tidak ingin terlihat sedih di hadapannya.
“dear, your wish is granted.”
Tiba-tiba dia ada di belakang ku dan memeluk ku. Apakah dia
juga merasakan hal yang sama seperti aku yang mulai suka padanya? Apakah dia
siap menunggu ku sampai studi ku selesai? Tuhan, aku tidak tahan lagi. Izinkan
lah aku menangis hanya untuk nya.
“mungkin, tuhan punya
rencana untuk kita berdua. Entah rencana apa, yang jelas sekarang aku..” lanjut
nya.
Stop wid! Aku sudah tidak tahan lagi, izinkan aku memeluk mu
untuk pertama kali nya dan semoga bukan yang terakhir kali nya. Spontan aku
membalik kan badan ku dan memeluk nya erat. Aku putuskan detik ini aku harus
kembali ke tempat ini dan meminta dia untuk menunggu ku.
“will you wait for me?
Just promise me. Wait for me. It’s just…my feelings for you, for 3 years…cannot
be simply disappears. Tiga tahun kemarin saja aku bisa menahannya, pasti aku
bisa dong menahan nya lagi untuk tiga sampai empat tahun? Yah please percaya sama aku.yah, yah, yah”
kataku sambil sesenggukan.
“sure.” Balas nya singkat.
Aku terus memeluk nya. Tidak ada kata yang keluar dari mulut
ku maupun dia. Hanya suara tangisan ku dan tatapan ke arah langit yang kosong
miliknya. Aku harus kembali!
That feeling (2015)
“Karen jam 2 nanti jangan lupa roadshow di Todai ya” singgung sahabat ku, Arko. Dia adalah sahabat
ku sekaligus manager ku. Dia orang Indonesia asli. Aku mengenal nya saat kita
mulai masuk kuliah di Cergy.
“iya ko. Ini gue mau mandi. Ga perlu lo ingetin juga kan kalo
gue harus mandi?” balas ku.
Arko ini bagiku adalah orang yang patut di contoh. Selama
masa kuliah, dia lah reminder aku.
Dia juga orang yang teladan. Orang yang selalu merencanakan hidup. Kasarnya,
misalkan besok hari senin. Dia selalu merencanakan hari itu mau kemana saja,
makan apa, istirahat dimana dan lain-lain. Sungguh orang yang terencana.
Pacarnya adalah sahabat ku di perancis. Nama nya Christine. Christine tidak
bisa ikut dengan kami karena dia harus menjaga orang tua nya di paris.
“udah sana cepet mandi, kita janjian sama Nami di Todai jam 1
loh. Sekarang udah jam 11”
Tuh kan, sudah ku bilang dia adalah reminder aku. Aku saja lupa kalau hari ini aku ada janji bertemu dengan
Nami disana. Nami adalah Road Manager
ku. Aku kenal dia dari kelas sastra jepang di Cergy. Kebetulan sekali dia ber-kewarganegaraan jepang. Mudah untuk
kami berkomunikasi di negara ini.
“yaudah iya, tenang gue mandi bebek kok”
“jangan bebek bebek banget ya, se enggak nya kelihatan abis
mandi”
“hehe sialan lo Ko. Sekalian siapin baju gue yang biasa ya.
Males pakai yang rapih-rapih.”
“iyee, udah sana buru” balas nya sambil membuka koper ku.
Tidak tahu mengapa hari ini aku merasa sangat bahagia. Tanpa
sebab dan akibat. Mungkin aku terlalu excited
akan roadshow pertama kali ku
yang kebetulan negara ini adalah negara pertama yang aku singgahi.
Dengar-dengar dari Nami sih, banyak orang asli jepang bahkan pendatang senang
dengan tulisan ku. Setiap kali aku mengingat prestasi ku ini, aku selalu ingat
kamu Wid. Karena memang isinya penuh dengan perasaan ‘itu’. Sudahkah kau
membaca buku ku?
Kami memutuskan pergi ke Todai dengan berjalan kaki. Hanya
beberapa blok saja dari Hotel tempat ku menginap, Coco Grand Ueno Shinobazu. Kebetulan aku datang kesini disaat musim
gugur dimulai. Makanya aku lebih memilih untuk berjalan kaki dibandingkan harus
memakai taxi atau mobil sewaan seperti yang Arko tawarkan tadi pagi. Lagian kan
hari ini hari terakhir ku disini. Setelah selesai roadshow nanti, aku langsung mengejar keberangkatan ku kembali ke
Paris. Indah nya negara ini di kala musim gugur. Tetapi tenang, Paris tidak
kalah indah nya kok!
“Ko sibuk banget sih liatin map” tegur ku kepada Arko
“kayaknya kita salah jalan” balas nya sambil menggarukkan
kepala.
Benar sekali, kelemahan Arko adalah membaca peta. Pernah
tersasar aku dibuat nya disaat kita sedang berlibur ke Venice bersama Nami dan
Christine.
“yah kumat kan. Coba sini liat” dia menyerahkan map itu
kepada ku.
“padahal jelas banget pas keluar hotel kita ke kanan. Kenapa
tadi malah ke kiri. Duh harusnya dari awal aja gue yang pegang ini peta Ko.”
lanjut ku.
“hehe iya sorry ya. Udah
naik taksi aja deh yuk biar ga nyasar-nyasaran. Udah jam 1 nih”
“ah lo Ko! hahaha. Yaudah cari taksi deh”
Waktu berjalan lambat, daun terus berguguran. Hampir sekitar
30 menit kita tidak mendapat kan taksi.
“gimana nih Ren. Ga dapet-dapet.”
“coba telefon Nami, kali aja dia ada mobil nganggur.”
“coba ya, sebentar” Arko mengambil telefon genggam nya dan
mulai sibuk menelfon Nami. Untunglah orang tua Nami bersedia meminjamkan mobil
nya.
Disaat sedang menunggu Nami, aku melihat pasangan yang sekira
nya sebaya dengan ku sedang berjalan di seberang jalan. Oh, orang Indonesia
juga ternyata. Terlihat dari wajah wanita nya. Mungkin mereka sedang honeymoon. Romantis sekali. Aku tertawa
kecil saat wanita tersebut meneriakkan nama pasangan nya, Jonah. Lucu sekali
seperti nama wanita. Tetapi ketika aku mengfokuskan mata ku terhadap pasangan
nya, si pria, terjadi getaran dahsyat pada kaki ku. Aku merasakan deras nya aliran
darah naik ke kepalaku. Panik, lemas. Aku seperti melihat Widi di seberang
sana. Sosok nya, tinggi nya, cara jalan nya, sama persis seperti Widi. Ah tidak
mungkin. Aku hanya berkhayal. Mungkin sudah terlalu rindu. Tapi kalo memang itu
dia, izinkan aku untuk bertemu dengannya, Tuhan.
Comments
Post a Comment